Contoh Cerpen Anak Sekolah

Posted on

Contoh Cerpen Anak Sekolah – Pada kesempatan kali ini kami akan membahas materi bahasa indonesia Contoh Cerpen Anak Sekolah. Untuk itu langsung saja simak contoh berikut ini.

Contoh Cerpen Anak Sekolah
Contoh Cerpen Anak Sekolah

Contoh Cerpen

Contoh Cerpen Anak Sekolah – Cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Di samping itu cerpen biasanya akan membawakan cerita yang sifatnya padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi lain yang lebih panjang, seperti novel dan novella.

Adapun Contoh Cerpen Anak Sekolah dalam cerita ini menceritakan seorang anak sekolah perempuan yang sering kali di bully do sekolahny sehingga pada akhirnya ia memutuskan untuk sekolah yang jauh dari kotanya disana ia mampu berinteraksi dengan banyak orang yang sayang padanya sehingga ia mejadi anak yang riang gembira, langsung saja kita lihat contoh berikut ini ;

Contoh Cerpen Anak Sekolah

# Contoh Cerpen Anak Sekolah

Jawaban Sebuah Doa

Cuaca di Kyoto saing hari ini sangat bersahabat, aku pun memutuskan untuk berjalan – jalan di area taman. Sambil menggenggam buku harian yang memang selalu aku bawa, aku memandangi foto mereka yang aku selipkan di dalam buku kesayangku ini di bawah pohon sakura yang bermekaran. Ah, aku rindu mereka sampai aku tak sadar air mata mengalir.

Dulu, aku dikenal sebagai seorang yang sangat pendiam, entah di tempat les, di sekolah, di tempat ngaji, pokoknya tempat lain selain di rumah, orang-orang mengenalku sebagai seorang perempuan yang susah untuk bergaul.

Bukan hanya sulit bergaul, bahkan untuk berbincang-bincang pun menjadi hal yang sangat sulit bagiku.

“Sulis… nama kamu bagus banget ya! Tapi nggak sama kaya orangnya? Hahaha” Nawan dan kawan-kawannya mengejeku dan berulah lagi hari ini.

Aku pun hanya bis mengelus dada, hal ini sudah tidak begitu menyakitkan bagiku. Kemarin, aku terkena bola mereka yang penuh dengan tanah sampai-sampai seragam putih biru ku kotor sejak pukul 7 pagi.

Hari kemarin nya lagi, tas coklat yang juga menjadi tas kesayanganku penuh dengan coretan spidol hitam. Hari kemarin-kemarin nya lagi bahkan dimarahi oleh mereka karena tertawa, mereka bilang aku gak boleh tertawa, gigiku tak enak dipandang kata mereka. Konyol bukan?

Begitulah kehidupan ku di masa putih biru. Aku selalu datang paling awal karena aku takut jadi bahan ejekan mereka jika terlalu lama ada di sekolah.

Aku juga jarang sekali jajan di kantin, karena ketika aku meninggalkan kelas, barang – barangku ku sudah tak utuh lagi, dan ini sudah menjadi hal biasa.

Maka jadilah aku si anak kurang pergaulan atau yang biasanya disingkat kuper yang tertekan dan tak memiliki teman. Tak terhitung lagi aku menangis di rumah dalam jangka seminggu. Emosi ku tidak sulit terkontrol, aku mudah marah dan seringkali menyalahkan orang lain.

“Ya Allah.. tolong beri satu sahabat kepadaku. Satu saja, aku memohon pada-Mu” ucapku sambil bersujud. Rasa-rasanya aku lupa bagaimana rasanya punya impian dalam hidup.

Karena setiap hari, aku hanya bisa merasa hidup jika aku tidak bertemu dengan Nawan dan kawan-kawannya. Aku sudah sangat lelah menjalani hidup seperti ini.

Wali kelas ku juga sudah beberapa kali meminta orang tuaku untuk datang ke sekolah untuk membicarakan tentang ku. Sebegitu mengkhawatirkankah diriku ini?

Saat itu aku pun putus asa. Aku pun memutuskan mencari sekolah sejauh-jauhnya dari kota ku. Aku ingin menjadi Sulis yang baru tanpa ada bayangan dari masa lalu yang menghawatirkan itu.

Aku mulai mempersiapkan banyak hal untuk pendaftaran, aku sungguh sungguh siap untuk menjalani hidup yang baru. Sebagai Sulis yang baru.

Namun Allah masih punya rencana lain.

Aku gagal di seleksi akhir karena nilai matematika yang hanya kurang 0,5 poin. Itu artinya aku juga gagal menjauhi mereka yang selalu menggangguku, ya Nawan dan kawan-kawanya. Aku menangis semalaman.

“Hai, kamu Sulis kan? Kenalin aku Dini teman sebangku nya Sisil. Kamu temannya Sisil kan?” Aku memandangi orang yang menyebut dirinya Dini ini dengan tatapan yang cukup terkejut. Karena selama ini tak ada orang yang menyapaku duluan, ditambah dengan wajah riang nya.

“Eh, iya. Salam kenal, Dini” jawabku dengan singkat.

“Sulis diajak siapa gabung di Rohis ini? Sepertinya rohis ini seru ya, kakak-kakaknya pada ramah banget. Aku bahkan diajak secara pribadi sama kakak yang pakai kerudung ungu itu.” Ia berbicara sambil menunjuk orang yang ia maksud. Sementara aku masih merasa keheranan karena ia orang pertama yang mau berbicara banyak kepadaku.

Ya, akhirnya aku pun memberanikan diri dan bergabung dengan eskul ketika aku mulai memasuki dunia putih abu-abu ini, ya SMA. Dari sekian banyaknya ekstrakurikuler yang ada, aku memilih Rohis.

Dan gak disangka-sangka, Allah menjawab doaku-doaku mulai dari tempat ini. Tempat yang sempat aku kira akan memberi ku luka baru.

Seiring waktu berjalan, ekskul ini aku rasa berbeda. Ekskul yang bisanya selalu mengadakan acara di masjid yang ada di dalam sekolah itu ternyata memiliki kehangatan layaknya keluarga. Untuk yang pertama kalinya dalam hidup, aku dapat merasa mencintai dan dicintai diluat rumahku sendiri.

Perlahan-lahan, aku mencoba berubah dengan bantuan dari mereka. Aku memberanikan diri untuk lebih bisa menonjolkan atau menunjukkan diri. Aku mencoba untuk lebih ekspresif, memperlihatkan apa yang aku rasakan. Dan lama-lama kepercayaan diriku mulai tumbuh.

Suatu hari, akupun sakit tepat ketika belajar mengajar masih berlangsung akhirnya aku istirahat di ruang UKS. Tak ku sangka, mereka teman-teman baruku berbondong-bondong ke UKS, mereka membawakan barang-barangku yang ada dalam kelas.

Ada yang menemani, bergantian dengan teman-teman yang lain yang sedang luang. UKS tiba-tiba ramai, ada sedang yang mengaji, ada yang sedang makan siang dan berbagai kegiatan lainnya.

Seketika tersadar. Allah sudah menjawab doaku. Tak hanya satu Allah memberikan ku banyak sahabat yang baik. Tubuhku memang masih merasa menggigil. Namun hatiku di aliri kehangatan yang sangat luar biasa.

Aku tersenyum, memandangi satupersatu dari mereka yang masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing di ruangan kecil ini.

Aku berjanji untuk menjaga titipan-Nya. Gumamku dalam hati.

“Hei, Sulis! Kamu kenapa nangis sendirian disini?!” Ujar Santi, teman sekamar ku. Aku terlonjak karena sangking terkejutnya.

“Eh Santi, aku sedang rindu pada sahabat-sahabatku. Aku tak sabar ingin pulang” ujarku seraya menghapus air mataku.

“Ohh, aku kira kamu kenapa. Aku kan jadi khawatir. Ya sudahlah, kita pulang saja yuk, udaranya makin dingin disini”

“Ayo San” sambil beranjak dari tempat duduk sambil memasukan buku harian ku ke dalam tas.

Sepanjang perjalanan pulang, aku masih memikirkan kepulangan ku yang masih lama menurutku yaitu tiga bulan lagi. Aku sungguh tak sabar ingin berkumpul bersama keluargaku tentu saja dengan mereka, para sahabatku.

Ketika orang -orang bangga untuk pergi, aku bangga untuk kembali pulang. Karena menurutku tempat kembali yang tepat, di mana tempat itu banyak orang yang menanti dan sayang kepadaku.

Sebutkan ciri-ciri cerpen?

1. Jumlah katakurang dari 10.000 kata.
2. Bersifat fiktif/ fiksi.
3. Hanya ada satu alur saja (alur tunggal).
4. Tulisannya singkat
5. Diangkat dari kejadian sehari-hari.
6. Menggunakan kata-kata yang mudah di pahami
7.Penokohan dalam cerpen sangat sederhana.
8. Cerita pendek bisa membrikan kesan dan pesan mendalam

Sebutkan struktur cerpen?

1. Abstrak
2. Orientasi
3. Komplikasi
4. Evaluasi
5. Resolusi
6. Koda

Sebutkan unsur intristik cerpen?

1. Tema
2. Alur/ Plot
3. Latar/ Setting,
4. Tokoh,
5. Penokohan,
6. Sudut Pandang,
7. Gaya Bahasa,
8. Amanat/ Pesan,

Demikianlah pembahasan kami mengenai Materi Contoh cerpen Anak Sekolah. Baca juga Contoh Cerpen Persahabatan. Semoga bermanfaat.

Related posts: