Cerita Jenaka

Posted on

Cerita Jenaka – merupakan Cerita Rakyat yang memiliki unsur cerdik atau pun lucu yang dapat menimbulkan tawa. Pusat alur yang digunakan biasa nya terletak pada kelakuan karakter utama dalam cerita. Biasanya bahan cerita berdasarkan kehidupan sehari-hari.

Cerita Jenaka
Cerita Jenaka

Fungsi Cerita Jenaka

Cerita jenaka tidak jauh berbeda dengan Cerita Lucu. selain memiliki sisi humor, cerita jenaka juga memiliki beberapa fungsi. diantaranya adalah :

  • Sebagai Sarana Hiburan

Cerita Jenaka jelas menunjukkan unsur lucu yang dimiliki oleh karakter dan peristiwa khususnya pada karakter utama. Ini dapat kita lihat pada salah satu contoh cerita Pak Pandir, Si Luncai, Lebai Malang, Pak Kaduk, Pak Belalang dan lain-lain. Karakter utama telah menciptakan kelucuan berdasarkan watak dari karakter mereka masing-masing.

  • Memberikan sarana Pendidikan Dan Pengajaran

Cerita jenaka digunakan sebagai alat untuk mengajarkan pikiran dan emosi. Meskipun ceritanya penuh dengan unsur-unsur lucu, akan tetapi cerita ini tidak sepenuhnya meninggalkan unsur pelajaran yang terkandung didalamnya. Ini berarti bahwa cerita-cerita lucu berfungsi sebagai pengajaran bahkan dalam bentuk unsur-unsur lucu yang membuat orang tertawa. Salah satu contohnya adalah cerita Pak Kaduk.

  • Menyampaikan Nasihat

Pada cerita jenaka terdapat juga pesan dan nasihat yang baik untuk mendidik sikap dan perilaku pada anak-anak. Cerita di dalamnya dapat memberikan inspirasi kepada anak-anak untuk meniru perilaku karakter baik yang terkandung di dalamnya.

  • Sebagai Sarana Kritikan Sosial

Selain itu, fungsi cerita jenaka sebagai sarana kritikan sosial pada masyarakat. Fungsi dari cerita ini bukan hanya untuk menghibur saja, akan tetapi untuk menegur, menyindir atau mengkritik masyarakat tanpa menimbulkan perselisihan.

Contoh Cerita Jenaka

Setelah kita membahas fungsi-fungsi cerita jenaka, mari kita simak kumpulan beberapa contoh cerita jenaka yang didalam ceritanya mengandung fungsi-fungsi seperti di atas.

Pak Lebai Malang

Monyet yang Serakah

Pak Lebai adalah seorang guru agama yang tinggal di tepi sungai di daerah Sumatra Barat. Pada suatu hari dia mendapat undangan pesta dari dua orang yang sama-sama kaya. Pak Lebai bingung ingin pergi ke mana karena pesta itu berlangsung pada hari yang sama dan di lokasi yang berbeda.

Jika dia datang ke undangan yang pertama dekat hulu sungai, maka tuan rumah memberinya dua ekor kepala kerbau. Akan tetapi makanan yang terdapat disana tidak enak. Lagi pula, dia tidak terlalu akrab dengan tuan rumah. Jika dia datang ke undangan yang kedua, dia hanya menerima satu ekor kepala kerbau dan disana terdapat masakan yang enak. Di sana ia juga mendapat kue tambahan. Lagi pula, dia akrab pada tuan rumah.

Pak Lebai mulai mendayung perahunya. Namun, dia masih belum bisa memutuskan undangan mana yang akan dia pilih. Dengan keraguan ia mulai mendayung perahunya ke arah hulu sungai. Dalam perjalanan dia mengubah rencananya dan kemudian berbelok ke hilir ke sungai. Ketika dia telah mendekati sungai, Pak Lebai melihat beberapa tamu dengan perahu pergi ke arah yang berlawanan. Mereka memberi tahu Pak Lebai.

“Pak Lebai, Kerbau yang disembelih di hilir sangat kurus!”

Pak Lebai kemudian berbalik ke hulu dan mengikuti orang-orang itu. Ketika dia tiba di hulu, Pesta sudah berakhir. Para tamu sudah pergi. Makanan pun sudah habis. Pak Lebai segera mendayung perahunya kembali ke hilir. Namun disana juga pestanya telah berakhir. disana tidak ada orang, tidak ada tamu undangan yang terlihat. Pak Lebai juga kelelahan karena dia mendayung ke hulu dan ke hilir. Dia mulai merasa lapar dan kemudian memutuskan untuk melakukan dua hal, memancing dan berburu.

Kemudian dia kembali ke rumahnya terlebih dahulu karena dia harus membawa anjing yang dia miliki untuk berburu. Dia juga membawa sebungkus nasi kemudian dia mulai memancing. Setelah menunggu beberapa saat, dia merasakan kail dimakan oleh ikan. Pak Lebai merasa lega, namun ketika menarik pancingnya Pak Lebai mengalami kesulitan. Pak Lebai yakin kail itu tersangkut di dasar sungai oleh batu atau karang.

Kemudian dia melompat ke sungai untuk mengambil ikan yang terpancing. Dia berhasil, dia menarik tali pancingnya dan berhasil mengeluarkan dari sangkutan batu. Akan tetapi, aduh! Setelah selesai, ikan itu terlepas dari kail. Pak Lebai sangat kecewa kemudian dia keluar dari sungai. Pak Lebai lapar dan ingin makan nasi bungkus yang dia bawa dari rumah.

Ternyata, nasi yang dia bawa sudah dimakan oleh anjingnya! Sangat malang nasib Pak Lebai. Nasib sial selalu dia dapatkan.

Sejak itu ia mendapat julukan dari orang-orang sekitar sebagai Pak Lebai Malang.

Pak Pandir

Pak Pandir

Pada zaman dahulu kala, di sebuah desa hiduplah seorang yang bernama Pak Pandir. Pak Pandir sudah tua, dia senang dengan pertanian.

“Dari pada bertani, lebih baik berdagang. Untungnya lebih banyak, dapat di jual lebih mahal” kata Pak Pandir.

Kata-kata Pak Pandir didengar oleh istrinya.

“Berdagang? itu adalah ide yang bagus, Aku setuju. Berdagang lebih baik karena lebih mudah” kata Mak Andeh.

“Mulai besok aku mau berdagang garam. Semua orang butuh garam,” kata Pak Pandir.

Di pagi hari Mak Andeh menyiapkan sarapan. Dia juga menyiapkan bekal untuk suaminya yang akan pergi jauh.

“Kamu mau mencari garam? Atau mau membeli garam!”

“Aku akan pergi ke laut, Tidak perlu membeli. Tuhan telah memberikan secara cuma-cuma, kita harus berusaha” Pak Pandir berkata.

Setelah lama berjalan, akhirnya Pak Pandir sampai di tepi pantai. Selama seminggu Pak Pandir menghasilkan garam. Dia mengumpulkan air laut di beberapa tempat. Pak Pandir terus mengumpulkan tempat pembuangan garam.

Setelah hari ketujuh Pak Pandir membawa garam-garam itu. Di perjalanan pulang dia melewati sungai, Pak Pandir berhenti. Dia menaruh sekarung garam di tumpukan kayu. Segera dia mandi dengan sangat puas.

Setelah mandi Pak Pandir memakan buah hutan yang dipanen. Saat dia kenyang dia mulai mengantuk.

“Jika aku tertidur, garamku akan dicuri orang, lebih baik aku sembunyikan terlebih dahulu” kata Pak Pandir.

Pak Pandir melihat ke bawah sungai. Tanpa banyak berpikir, Pak Pandir mengambil karung garam dan meletakkan ke sungai. setelah selesai, Dia berjalan menuju sebuah pohon yang teduh.

Setelah dia terbangun dari tidurnya, dengan cepat Pak Pandir mengambil karung garam miliknya.

“Aku harus segera pulang, istriku sudah lama menunggu” kata Pak Pandir.
Ketika sampai di rumah, Pak Pandir berteriak.

“Andeh! Andeh! Aku pulang dengan membawa garam!” Kata Pak Pandir.

Kemudian Pak Pandir menaruh karung garam pada sebuah alas yang telah di siapkan.

“Mana garamnya?” Tanya Mak Andeh.

“Eh! Ada di mana ya? tadi ada disini. Ternyata benar semakin banyak saja orang di dunia yang tidak jujur ​​dan mencuri. Tadi di perjalanan saya meletakkan garam itu di tempat yang aman di daerah sungai. Tidak akan ada yang melihatnya!” Kata Tuan Pandir.

Tanpa disadari garam yang di bawa oleh Pak Pandir telah larut ketika ia tertidur di dekat sungai.

Si Luncai

Si Luncai

Luncai dihukum oleh raja untuk dibuang ke laut. Luncai dihukum karena kesalahannya bermain dengan raja dan bangsawan dan dia menerima hukuman dengan tenang.

Pengawal raja siap membawa Luncai ke kapal untuk dibawa ke tengah laut, karena Luncai akan dibuang ke laut, Luncai dimasukkan ke dalam karung dan dibawa ke pangkalan.

Ketika semuanya sudah siap, maka kapal tersebut dijalankan ke laut. Dari dalam karung Luncai bisa melihat beberapa buah labu berada dalam kapal. Setelah beberapa lama kapal mereka berjalan ke tengah laut, luncai berkata; “Sayang sekali aku melihat kalian begitu bosan diatas kapal, apakah kalian ingin aku memberi tahu sebuah lagu untuk menyingkirkan kebosanan kalian semua?”

Salah satu dari mereka berkata: “Diam kamu, kamu akan segera dilempar ke dalam laut ini.” Ketika mendengar kata-kata seperti itu, maka Luncai segera bernyanyi. “Si Luncai melompat dengan labu-labunya. Biarkan saja! Biarkan saja!”

Ketika dia mendengar Luncai bernyanyi, Pengawal raja pun mulai tertarik dengan lagunya beberapa pengawal yang lain pun mulai ikut bernyanyi: “Si Luncai melompat dengan labu-labunya”

Kemudian beberapa yang lain menjawab, “Biarkan saja, biarkan saja!” Akhirnya, mereka menjadi kelompok yang sedang menyanyikan sebuah lagu.

“Si Luncai melompat dengan labu-labunya!”

“Biarkan saja! Biarkan saja!”

Lagu itu dinyanyikan terus menerus sampai para pengawal raja kelelahan.

Ketika Luncai melihat situasi seperti ini, dia keluar dari karung dan mengisi beberapa buah labu. Kemudian dia mengambil dua buah labu lagi dan melompat keluar dari kapal. Luncai berenang ke tepian dengan buah labu sebagai pelampungnya.

Ketika mereka sampai di tengah laut, pengawal raja melemparkan karung ke laut. Para pengawal tidak mengetahui bahwa isi karung tersebut bukan lah Si Luncai, pengawal hanya tau bahwa Si Luncai telah mati. Tidak ada yang mengetahui bahwa Luncai telah berenang ke pinggir pantai.

Demikian kumpulan beberapa contoh cerita jenaka bahasa Indonesia yang dapat kami rangkum semoga cerita diatas dapat memberikan manfaat dan menghibur kalian semua.

Demikian kumpulan beberapa contoh cerita jenaka bahasa Indonesia yang dapat kami rangkum semoga cerita diatas dapat memberikan manfaat dan menghibur kalian semua.

Baca Juga :

Related posts: